Home | Posts RSS | Comments RSS | Login

syafaat Rasulullah

Tuesday, June 9, 2009

assalamualaykum ya akhi ya ukhti

semua manusia yang beriman selalu dalam hatinya berharap mendapat syafaat dari Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Salah satunya jalannya adalah menjalankan sunnah rasul yang pernah dicontohkan beliau kepada para sahabat dan disampaikan turun temurun oleh para Tabi’in, para Tabi'ut tabi'in dan para penerus selanjutnya sampai saat ini.

Namun  hari ini aku ingin mencoba lebih mengenal apa itu syafaat

Dalam beberapa literature dan Al Quran dituliskan mengenal syafaat
Menurut catatan kaki No. 46 dari Al Qur’an terbitan Departemen Agama RI adalah perantaraan. Jadi Juru Syafa’at adalah perantara.

Siapa yang mampu memberi syafaat ?
Yang mampu member syafaat haruslah seijin Allah SWT seperti dalam firman Allah :

 
“Syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali Allah sudah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhaiNya” (QS An Najm (53) : 26)
 “Siapakah yang dapat memberi syfa’at disisi Allah tanpa izinNya” (Ayat Kursi Al Baqarah (2) : 255)


Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pemberi syafaat ?

Ada beberapa hadits yang mungkin perlu terlebih dahulu kita baca :

(Hadits Shahih Bukhari 163)
 “Hai, Bani Abdul Muthalib! Aku tidak kuasa apa-apa untuk membelamu sekalian di hadapan Allah kelak. Karena itu, kecuali sedikit harta yang kumiliki mintalah kepadaku jika kamu membutuhkan!”


(Hadits Shahid Bukhari 1261)
“Dari Abu Hurairah r.a, katanya: Rasulullah Saw berdiri ketika Tuhan yang Maha Mulia dan Maha Besar menurunkan ayat yang artinya: “Dan berilah peringatan kepada kaum famili engkau terdekat!” 
Lalu beliau bersabda: “Hai kaum Quraisy! (atau perkataan yang serupa dengan itu). Tebuslah dirimu! Aku tiada dapat menolongmu barang sedikitpun dari siksa Tuhan. Hai Bani Abdi Manaf! Aku tiada bisa menolongmu sedikitpun. Hai Abbas anak Abdul Muthalib! Aku tiada bisa menolongmu sedikitpun dari siksa Tuhan. “Hai Safiah, bibi Rasulullah! Aku tiada bisa menolongmu sedikitpun dari siksa Tuhan. Hai Fatimah binti Muhammad! Mintalah kepada aku harta dan aku tiada bisa menolongmu sedikitpun dari siksa Tuhan!”


Dan berikut ditegaskan dalam Al Quran 

 “Katakanlah: Aku bukanlah rasul yang pertama diantara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang diperbuat terhadapku, dan apa yang diperbuat terhadapmu, aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan” (QS Al Ahqaf (46) : 9)

 “Dan katakanlah: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan” (QS Al Hijr (15) : 89)

Sabda Rasulullah saw :
Syafaatku adalah kuberikan untuk ummatku yg berdosa besar (Shahih Muslim)

hadits beliau saw : “Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber-istighatsah (minta tolong) kepada Adam, lalu mereka beristighatsah kepada Musa, Isa, dan kesemuanya tak mampu berbuat apa apa, lalu mereka beristighatsah kepada Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam” (Shahih Bukhari hadits no.1405)


Juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits no.194, shahih Bukhari hadits no.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadist-Hadits shahih yg rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menunjukkan umat manusia ber istighatsah pada para nabi dan rasul, bahkan Riwayat shahih Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusi.. dan seterusnya.. dan seterusnya … dan seterusnya dan Adam as berkata : “Diriku..diriku.., pergilah pada selainku.., hingga akhirnya mereka ber Istighatsah memanggil manggil Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Tanggapan habib Munzir terkait dengan hadits tersebut di atas 

Ucapan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bahwa beliau tidak mampu memberi syafaat adalah demi para sahabatnya tidak bertopang diri dan meninggalkan amal, karena ummat beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sudah dijamin surga walau hanya dengan ucapan Laa ilaha illallah, sebagaimana sabda beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam : 


Barangsiapa yg mengucap Laa ilaha illallah, maka ia akan masuk sorga. Maka selain daripada itu adalah siksa neraka yg tidak kekal bagi para pendosa, Bagi para pendosa disediakan pengampunan di dunia, jika mereka bertobat maka dalam sekejap dosanya sirna, jika mereka tak bertobat maka Allah jadikan setiap musibah mereka sebagai penghapus dosa (hadits riwayat shahih Bukhari), dan setiap kesedihan merekapun merupakan penghapusan dosa (shahih Bukhari), setiap mereka shalat terdapat penghapusan dosa (Shahih Bukhari), setiap mereka berwudhu terdapat penghapusan dosa (shahih Bukhari dan Shahih Muslim),

Dan seluruh ibadah adalah menghapus dosa dosa, Muslimin selalu disucikan oleh Allah tanpa mereka sadari, semakin mereka taat maka semakin sucilah mereka, hingga wafat dalam kemuliaan dan masuk surge

Semoga bermanfaat dan semakin menguatkan keimanan kita dan tanpa ragu menjalankan sunnah rasul dari yang ringan untuk memimpikan mendapat syafaat beliau di akhirat ..amien 



Konsistenkah karakter dan penampilan islami kita?

Wednesday, June 3, 2009

assalamualaykum ya akhi ya ukhti
Pertanyaan berikutnya yang kita ajukan kepada diri kita adalah “apakah diri kita konsisten dengan penampilan islam? dan apakah kita berkarakter sebagai seorang muslim yang baik?”

Kita telah mengetahui bahwa hanya dengan menampakkan karakter sebagai seorang muslim yang baik sudah merupakan dakwah bagi agama kita. Apalagi jika mempunyai suatu jabatan yang tinggi atau kedudukan terhormat di tengah masyarakat, maka kita akan dapat berdakwah kepada mereka dengan penampilan kita yang islami. Dan itu artinya kita sudah bermanfaat bagi agama menurut kemampuan kita. 

Abdullah bin masud .ra berkata “ketahuilah, sesungguhnya perilaku yang baik di akhir zaman lebih utama daripada sebagian amal. Apa maksud dari ucapan Abdullah bin masud ini?, maksudnya adalah bahwa tingkah laku yang baik adalah tingkah laku islami di akhir zaman, dimana kita yang hidup di dalamnya hari ini lebih utama dari sebagian amal taat dan ibadah. Sebab pada saat itu orang-orang telah banyak rusak akhlaknya, yang ma’ruf menjadi munkar, yang munkar menjadi tidak baik, sehingga konsisten perilaku yang islami sebagai bukti kuatnya keyakinan terhadap agama islam atas seseorang, dan dia dapat menjadi penuntun orang lain menuju jalan orang-orang yang bertakwa.
Bahkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang konsisten berkarakter dan berpenampilan yang islami.
Apa kata Rasulullah : “sesungguhnya prilaku yang baik dan karakter yang sholeh serta berhemat dalam beragama merupakan 25 bagian dari kenabian” (hadits HR Bukhori dari ibnu abbas)

Maka, saya terutama akan bertanya kepada diri saya sendiri. Apakah betul saya seorang yang konsisten berpenampilan islami dan berkarakter muslim sekalipun banyak orang yang tidak suka. Apakah saya lebih banyak mengutamakan ridho Allah dibanding dibenci oleh orang-orang? Ataukah saya termasuk orang yang senang mencari ridho manusia dengan kebencian Allah. InsyaAllah kita bisa menjawab dengan jujur di dalam hati “iya atau tidak”

Semoga kita bisa menjawabnya dan bersyukur bisa memberikan yang terbaik baik agama kita…amien, jika bellum insyaAllah kita bisa memperbaikinya untuk kokohnya islam kita.

InsyaAllah apa yang aku tuliskan tidak hanya sebagai nasehat semata tetapi bisa diimplementasikan olehku sendiri ..amien

Kita semua pernah melakukan kesalahan

Sunday, May 31, 2009

assalamualaykum ya akhi ya ukhti

Perpecahan itu akan timbul dan ukhuwah akan terputus, apabila kita saling tidak mau menyadari tentang keterbatasan diri kita, apabila kita tidak mau berbaik sangka terhadap sesuatu yang tampak pada saudara kita, dan apabila kita tidak memberlakukan satu sama lain di antara kita untuk saling memahami kekurangan-kekurangan kita. Sesungguhnya kita sebagai manusia, kita pasti pernah melakukan kesalahan, karena kita bukan orang-orang yang maksum, bukan orang-orang yang terjaga dari dosa.

Karena itu ketika kita melihat suatu kesalahan saudara dan kita harus menyiapkan diri kita untuk bersabar untuk menghadapinya agar terjaga kelangsungan ukhuwah kita. Sahabat, barang siapa yang hanya berkenan bersahabat kepada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, maka sebaiknya dia bersahabat dengan makhluk lain selain manusia. Atau sebaiknya dia memutuskan untuk tidak banyak kawan dan banyak musuh. Seorang imam yang merupakan panutan banyak ulama yaitu abu rodja bin huwai, barang siapa yang tidak bersaudara kecuali kepada orang yang tidak memiliki aib maka kawannya sangat sedikit, barang siapa tidak ridho dengan saudaranya kecuali dengan keikhlasan kepadanya, maka kebenciannya tidak pernah berakhir dan barang siapa memaki saudaranya tiap dosa maka musuhnya sangat banyak.

Sahabatku, semoga kita senantiasa memahami bahwa kita berbeda, memahami bahwa setiap manusia pernah berbuat salah, memahami bahwa setiap manusia tidak mempunyai kesempurnaan secara hakiki. Sesungguhnya adalah awal dari kesadaran diri untuk bisa memahami orang lain dan sungguh sifat seperti ini akan dapat memperteguh nilai-nilai persaudaraan kita dengan orang lain, walau orang itu mempunyai kesalahan dalam hidupnya. Jikalau kita ingin tetap bersaudara jangan jauhi mereka yang berbuat salah, tapi dekatilah mereka. Sebab semakin banyak kita menjauhi, maka sesungguhnya mereka tetap akan melakukan kesalahan. Namun dekatilah mereka agar kita mampu menasihatinya inilah prilaku yang arif dan bijaksana. Inilah yang perlu kita lakukan kepada saudara kita, semoga ini kita tetap bisa menjaga ukhuwah sesama muslim..amien



Maukah aku menikahiku?

Thursday, May 21, 2009
Assalamualaykum warrahmatullahi wabbarakatuh

Beberapa hari yang lalu ada saudara sms ke aku yang intinya sms itu beriarasi begini “bantuin aku dunk, suamiku itu males sekali sholatnya”. Waktu itu terima smsnya pas aku mau melaksanakan sholat Ashar, nanti aja aku pikir sehabis sholat atau pas waktu luang aku balas smsnya.
Tapi aku kelupaan he he, baru jelang adzan magrib aku teringat sms itu. Teringat dengan si pengirim sms, dan aku sedikit tau tentang dia bahwa sebenarnya dia juga masih angot-angotan sholatnya, masih suka menunda-nunda sholatnya. Pernah waktu itu dalam perjalanan pulang dari suatu tempat dan waktu itu kita belum melakukan sholat Ashar, sesampai di rumah jam sudah menunjukkan pukul 17:10, tapi aku perhatikan diapun tidak segera melakukan kewajibannya.

Kembali ke sms tadi, singkat aku tulis sms balesanku kepadanya “ada kalimat bijak yg mungkin kau hrs renungi & nanti tanya kepadaku jika kau tdk mengerti, kalimat itu :maukah aku menikahiku? ..setelah itu aku kirim sms itu.

Selepas aku melaksanakan sholat magrib aku terima balesan sms dari dia “aku tidak mengerti kalimat ini? “ aku pun membalas sms itu, karena aku belum berkeinginan untuk menelpon dia langsung untuk menjelaskannya. Aku ingin ada sesi khusus berbicara langsung dengan dia untuk menjawab permasalahan yang dia hadapi saat ini, sekalian menjelaskan maksud dari kalimat itu. Kemudian aku balas sms itu “he he he insyaAllah nanti aku jelaskan ketika kita bertemu, sekarang perbaiki saja dulu sholat kita sendiri, kembali ke jalan Allah, insyaAllah nanti Allah memberikan hidayah-petunjuk olehNya dan mengabulkan doa kita”

Hmm mungkin temen-temen pembaca sudah mengerti maksud kalimat itu “maukah aku menikahiku?” atau mungkin kalimat lain yang mempunyai makna hampir sama seperti “maukah bersediakah aku menjadi temanku?


Iman yang naik turun

Sunday, May 17, 2009
Assalamualaykum warrahmatullahiwabarakatuh

Jika kita termasuk orang yang diberikan petunjuk olehNya, tentu akan merasakan nikmatnya mempunyai iman. Dan selain merasakan nikmatnya, juga tentu akan merasakan risaunya ketika iman itu sedang turun, serta merasakan betapa Allah sedang menguji keimanan kita.

Allah berfirman : "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS 13 Ar-Rad 28)

Hati kita yang beriman senantiasa akan di bolak-balik oleh Allah sebagai ujian buat kita. Oleh karena itu kita selalu harus menjaga iman ini tetap ada di hati.

Dalam sebuah hadis disabdakan bahwa al-iimanu yazid wa laa yankus. Iman itu kadang bertambah, kadang berkurang, kadang naik, kadang turun. Aku coba merefleksikan iman itu dalam sebuah grafik seperti di bawah ini :

Iman Pertama, turun dan naik berada dalam posisi sama. Naik dan turun hampir sama besar dan cepatnya. Keimanan seperti ini memungkinkan seseorang mendapatkan khusnul khatimah (baik di akhir), bila Allah berkenan mencabut nyawanya pada saat iman sedang naik. Namun bila Allah mencabut nyawanya pada saat imannya turun, maka ia akan mendapatkan su'ul khatimah (jelek di akhir)

Iman Kedua, naiknya sedikit, tapi mudah turun secara drastis. Orang yang memiliki keimanan seperti ini, kemungkinan besar akan meninggal dalam kondisi su'ul khatimah. Wallahualam

Iman Ketiga, naiknya cepat, tapi lambat turunnya dan sedikit. Orang dengan iman konstruktif seperti ini, ketika ketaatannya naik, ia akan merasakan betapa lezatnya keimanan. Namun saat ia terjatuh pada kemaksiatan, ia akan resah dan ingin segera meninggalkan kemaksiatan tersebut.

Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbiy ‘alaa diinika wa’ala thoo’atika”..wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk tetap konsisten dalam dien-Mu dan dalam menta’ati-Mu.

Pertanyaannya, bagaimana cara mempertahankan sikap iman ini?