Home | Posts RSS | Comments RSS | Login

ber-Tobat-lah

Thursday, August 20, 2009
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a. “……seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di bawah gunung yang ia khawatirkan akan menimpanya, sementara seorang fajir (jahat) melihat dosanya seperti melihat seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya lalu menepisnya dengan tangannya….Nabi saw pernah bersabda “Kebahagiaan Allah terhadap tobat hambaNya lebih besar daripada kebahagian seorang lelaki yang menemukan tunggangannya yang hilang padahal dia berada di tempat yang berbahaya…”


Responsif dengan suara adzan

Sunday, August 2, 2009

Adzan juga merupakan panggilan shalat kepada umat Islam, yang terus bergema di seluruh dunia lima kali setiap hari yang merupakan media luar biasa untuk mengumandangkan tauhid terhadap Maha yang Maha Kuasa dan risalah (kenabian) Nabi Muhammad saw. Betapa mengagumkan suara adzan itu, dan bagi umat Islam di seluruh dunia, adzan merupakan sebuah fakta yang telah mapan.
Namun, bagi kita kaum muslimin, adakah adzan ini merupakan sesuatu yang menyentuh kita, adakah kita merasakan bahwa adzan ini bukanlah hanya panggilan mu’adzin untuk bersegera melakukan sholat namun bahkan ini adalah panggilan syahdu Allah SWT pada hambaNya melalui suara muadzin. Seberapa jauhkah respons kita pada panggilan tersebut?

Mulai dari keutamaan muadzin (yang mengumandangkan adzan) hingga memenuhi panggilannya dengan sholat berjamaah pernah di ungkapkan Rasulullah saw: "Sekiranya manusia mengetahui keutamaan adzan dan shaf pertama, kemudian kemudian tidak mendapati kecuali harus melakukan undian untuk mendapatkannya niscaya mereka melakukan undian, dan sekiranya mereka mengetahui keutamaan bersegera melaksanakan shalat niscaya mereka berlomba kepadanya, dan sekiranya mereka mengetahui keutamaan shalat Isya' dan Shubuh niscaya mereka datang kepadanya sekalipun dengan merangkak". Dalam kesempatan lainnya Rasullullah saw juga mengungkapkan rasa gembira sekali jika adzan akan dikumandangkan oleh Bilal bin Raba' dan beliau juga meminta kepada Bilal untuk mengumandangkannya semerdu mungkin. Mendengar keistimewaan muadzin ini dijaman Rasulullah ada seorang lelaki berkata kepada Rasullullah saw bahwa dia ingin juga mendapatkan seperti muadzin itu, dan kemudian Rasullullah saw bersabda: "Ucapkanlah sebagaimana yang mereka ucapkan, dan kemudian apabila kamu telah mengucapkannya maka mintalah (kepada Allah swt) niscaya kamu diberi". (HR. Abu Dawud, Nasa'i dan Ibnu Hibban), Menurut Syaikh Nashiruddin Al-Albani hadish ini hasan.

Tapi kalau kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari sa'at ini, kadang kita telah sengaja atau tidak sengaja mengacuhkan panggilan Allah ini (adzan). Jangan kan menjawabnya untuk mendengar-kannya kita merasa tidak punya waktu dan bahkan dengan tidak sengaja atau disengaja justru kita berbicara, menonton teve, mendengar radio, tape dsb. selama adzan dikumandangkan dan yang lebih ekstrim lagi kita justru membesarkan volumenya seolah-olah kita terganggu dengan seruan adzan tersebut. .... Astaghfirullah al-adzim......

Marilah mulai sa'at ini kita jadikan adzan itu sebagai nada musikal yang paling merdu dan yang sangat kita tunggu-tunggu di setiap waktu shalat dan bersungguh-sungguh untuk menjawabnya dan berdoa sesudahnya. Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa ketika mendengarkan adzan dan berdoa: "Ya Allah, seruan yang sempurna ini dan shalat yang berlangsung, berikanlah wasilah (kedudukan) dan keutamaan kepada Muhammad, dan bangkitkanlah ia pada maqam yang terpuji yang pernah Engkau janjikan", maka ia berhak mendapat safa'atku pada hari kiamat" (H.R. Bukhari, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa'i, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi). Dan dalam hadist lainpun Rasullullah saw bersabda: "Do'a antara adzan dan iqamat tidak ditolak". (HR Abu Dawud, Turmudzi, Nasa'i, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban). Sedangkan Ibnu Hibban meriwayatkan bahwa dengan tambahan kata: "Maka berdo'alah". Akankah kita abaikan kesempatan ini???

Berbahagialah orang yang rumahnya dekat dengan masjid yang senantiasa mendengar alunan nada merdu dan sholat berjamaah dimasjid. Dan bagi kita yang jauh dari mesjid dan juga karena jarangnya masjid dan sudah barang tentu jarang sekali mendengar adzan, tetapi jika hati kita selalu di masjid dan Insya Allah hati kita pun akan dengan sendirinya menyenandungkan adzan-adzan tersebut, dan akan juga selalu mencari dari sumber adzan dikumandangkan dan shalat berjamaah disana...

Wallahu’alam

Komunitas Pencinta Mesjid



Biarlah tangan tetep menengadah

Wednesday, July 8, 2009

Masalah besar, masalah kecil pernah aku hadapi. Beberapa masalah bisa aku lewati, sebagian masalah masih aku hadapi dengan tetap berbaik sangka atas rencana Allah kepadaku. Berbagai keinginan dan cita-citapun aku niatkan dalam hati dan berharap Allah meridhoi. Mengharapkan dihapusnya dosa-dosa yang bergelimang sejak aku baligh sampai saat ini selalu aku impikan. Terbayang banyak sekali tuntutan dan harapan dan sebagainya dalam kehidupan yang aku lewati. Aku selalu memburu ridho, petunjuk dan karunia Allah untuk memecahkan permasalahanku.

Hati merenung, permasalahan sengaja disebar, cobaan sengaja ditebar agar kita kembali kepada Allah swt. Harapan sengaja ditangguhkan agar kita banyak mengengadahkan tangan kepada Allah swt. Ampunan sengaja dirahasiakan agar tangan selalu bergantung ke langit . Menengadahkan tangan ke langit bukan suatu kehinaan tetapi kemuliaan, terlebih lagi bisa disertai dengan pejaman dan tetesan air mata.

Temukanlah Hatimu !

Abu Hamid al Ghazali mengatakan "Temukanlah hatimu di tiga tempat. Pertama, saat membaca Al Quran, kedua saat shalat dan ketiga saat ingat akan kematian!. Kalau ternyata di tiga tempat itu kita tidak menemukan hati kita, maka berdoalah kepada Allah swt. Agar engkau dianugrahi hati, sebab itu berarti kita tidak memiliki hati"

Jika kita menemukan hati kita berada di tiga tempat tadi, insyaAllah kita akan mendapatkan diri kita berada di puncak kebahagian. Sebaliknya, bila tidak ditemukan, berarti kita tidak memiliki hati. Sekalipun demikian, janganlah putus asa mencari hati itu. Dan itu dapat dilakukan dengan cara terus-menerus bersimpuh di pintu Allah swt.

tahukah kita | sholat sunnah yang paling dijaga oleh Rosulullah

Wednesday, July 1, 2009

Yang paling utama dari sholat-sholat sunnah rowatib ini adalah sholat sunnah sebelum fajar. Hal ini berdasarkan riwayat dari Aisyah r.a. bahwa ia berkata,

tidak ada sholat sunnah yang paling dijaga oleh Rosulullah selain dua rokaat fajar

Rosulullah juga bersabda :
Dua rokaat sholat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya

Adapun dalam pelaksanaannya Rosulullah mensunnahkan untuk memendekkan sholat sunnah fajar. Berdasarkan riwayat Shohih Bukhori dan Muslim Aisyah r.a. berkata :

Rosulullah selalu memendekkan sholat dua rokaat sebelum sholat subuh.

Dan perlu kita tahu, pada rakaat pertama setelah membaca Al Fatihah Rosulullah sering melanjutkannya dengan membaca surat Al Kafirun dan pada rakaat kedua dengan Al Ikhlash.