Masa muda dan kesehatan yg prima kadang membuai diri dalam ketertipuan sehingga lupa maut
Disekitar kita sedikit kaum tua, namun bertebaran kaum mudanya..namun merekalah yg banyak bertemu dengan maut
Kesehatan dan kebugaran raga tak mampu menghalangi maut, begitu juga dengan sakit walau parah belum tentu datangi maut. Umur muda juga tak mampu halangi maut, lanjut usia pun belum tentu bisa datangkan maut.
Orang dituakanNya dan tertipulah ribuan manusia, mereka lupa banyak pemuda yang telah terkubur di dalam tanah karena maut. Umur muda memang penuh keterlenaan, namun keterlenaan di usia tua sangatlah celaka..
Mulut dan hati dekat jaraknya, tapi puluhan tahun utk bisa menempuhnya. Antar ucapan IMAN di mulut untuk sampaikan di hati. Biar segera tiba IMAN di hati maka segeralah ambil hikmah dari segala pelajaran. Salah satunya maut sebagai penggugah
Hikmah ada dimana-mana, tersebar, jika ia ditemukan, maka ambillah ia menjadi milikmu yg berharga. Selain itu banyak-bayaklah mengingat Allah (dzikir) sehingga menambah IMAN di dalam hati, itulah hakikat dzikir berulang-ulang
Panjang angan-angan menjadi diri tenggelam dalam ketertipuan dunia
Duhai diriku yang pendosa, saatnya beralih menuju pertemuan denganNya, maut sebagai jembatannya
Duhai diriku yang pendosa, maut akan menghapuskan jejak langkahku di dunia ini
Duhai diriku yang pendosa, sayangilah tubuhmu, gunakanlah buat kebaikan..karena ia tunggangan jiwamu tuk sampaikan kau ke tujuan
Duhai diriku yang pendosa, sayangilah ruhmu, karena dialah yg khan bertemu denganNya, kala ia pergi..tubuhmu mati kaku.
Duhai diriku yang pendosa, ingatlah pesan Nabimu "banyak2lah berfikir tentang maut, InsyaAlloh akan dimudahkan sakaratnya.."
insyaAlloh teruslah mengingatNya

0 comments to Duhai diriku yang pendosa:
Post a Comment