Home | Posts RSS | Comments RSS | Login

Showing posts with label berbagi hikmah. Show all posts
Showing posts with label berbagi hikmah. Show all posts

maka bermaksiatlah

Saturday, November 20, 2010
Bila engkau ingin kesengsaraan bersarang di rumahmu dan bertunas, maka bermaksiatlah kepada Allah. Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan negeri dan menggoncang kerajaan. Oleh karena itu jangan engkau goncangkan rumahmu dengan berbuat maksiat kepada Allah

Polesan hati

Tuesday, November 9, 2010
Yakinilah Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Namun terkadang Dia memberi bencana agar manusia ambil sebagai pelajaran. Semoga kita hambanya bisa mengerti apa yang ditetapkanNya itulah yg terbaik buat kita.

"Demi Allah yang jiwaku ditanganNya, tidaklah Allah menetapkan suatu ketetapan bagi seseorang mukmin, melainkan hal itu baik baginya.." (HR muslim)

Berserahdiri bukanlah berarti mengabaikan usaha. Usaha atau ikhtiar harus dilakukan. Gantung jiwa kita pada Arasy Allah sementara kaki kita menapak bumi.

Jikalau musibah itu datang anggap adalah sebuah pelajaran dan polesan kelembutan buat hati kita. Kalau setiap polesan (red #musibah) itu slalu dianggap penyiksaan, lalu bagaimana caranya membuat hati kita agar bersinar. Berbaiksangkalah padaNya.

Tiada pilihan lain bagi manusia yg berakal selalu meyakini ketetapanNya. Kejadian yang menurut mata kita indah, belum tentu baik menurut Allah begitu juga sebaliknya bukan?

Pandangan yg memusatkan hanya pada tahi lalat di muka seseorang akan nampak buruk, tapi pandanglah secara keseluruhan wajah itu, terlihat tahi lalat itu mempercantiknya

Yakinilah Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Tak ada apa-apanya

Sahabat...
Coba sekarang bayangkan dirimu mempunyai tanah yang luas penuh penuh dg kebun dan hewan-hewan ternak. Senang bukan?

Sekarang bayangkan, dirimu mempunyai banyak rumah & kendaraan, hartapun berlimpah, sehingga segala kebutuhanmu terpenuhi, enak bukan?

Dan sekarang bayangkan, kau memilki sebuah kota yang mana kau mendapatkan pendapatan yang berlimpah dari pajak dan sewanya, begitu kayanya dirimu.

Lalu Sekarang bayangkan, kau memiliki sebuah pulau yang luas. Semua kekayaan di dalamnya milikmu, segala kecukupan berlimpah, begitu hebat dan kayanya dirimu

Akhirnya coba sekarang bayangkan, kau adalah pemilik sebuah benua, penuh dg sumber daya alamnya, emas, minyak dan segala macam. Betapa hebatnya dirimu.

Dan Sekarang bayangkan kau satu-satunya pemilik bumi ini, isi laut, isi hutan, segala kekayaan alamnya bisa kau gunakan semaumu. tak terbayangkan bukan? Betapa kayanya dirimu

Sekarang kita renungkan hadits yang pernah di sabdakan baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, "2 rakaat sholat sunnah sebelum Shubuh lebih utama dr dunia dan seisinya" (HR Muslim, At Turmudzi, An Nasai)

Subhanallah, 2 rakaat sunnah sebelum shubuh lebih utama dari dunia dan segala isinya, apalagi sholat shubuh 2 rakaat yang fardhu.

Astaghfirullah, tidur lelapku kadang membuatku tak membuatku bangun lebih awal. Tidur lelapku lebih kuutamakan. tidurku utama dari dunia dan seisinya. Sedihnya diriku.

Astaghfirullah, kuabaikan janji-janji Allah dan utamakan kejar dunia yang remeh temeh ini

Kutuliskan karena kumulai lalai tunaikan 2 rakaat sunnah ini. InsyaAlloh jadi pengingat dan penegur diri dan kita semua. Amin

kuatkan aku ya Rabb

Wednesday, September 22, 2010
ya Allah kuatkan punggungku dengan kekuatanMu, tuk menahan beban cobaan dan ujian dariMu, karena tak layak hambaMu ini mengatur kehendakMu

kuatkan aku ya Rabb

ya Allah kuatkan punggungku dengan kekuatanMu, tuk menahan beban cobaan dan ujian dariMu, karena tak layak hambaMu ini mengatur kehendakMu

mengadulah kepadaNya

Friday, June 4, 2010
Yang paling tahu dirimu (aibmu) adalah Allah, lalu dirimu sendiri, lalu orang terdekatmu,maka memohon ampunan dan petunjuklah kepadaNya

Bukan mengadu kepada orang-orang yang tak mengetahui engkau sebenarnya karena dirimu (aibmu) tak benar-benar terbuka kepadanya

Ketika mengadu kepadaNya jiwapun senantiasa jujur akan dirinya (aib) dan hati insyaAllah berniat akan memperbaiki diri

Namun ketika diri ini mengadu kepada yang tak mengetahui dirimu (aibmu), maka nasihat & dukunganpun hakikatnya tak mmbuat dirimu lebih baik

Maka banyak-banyak mengadulah kepada Allah agar mulia, jangan menjadi hina karena mengadu hanya kepada makhlukNya

mengadulah kepadaNya

Yang paling tahu dirimu (aibmu) adalah Allah, lalu dirimu sendiri, lalu orang terdekatmu,maka memohon ampunan dan petunjuklah kepadaNya

Bukan mengadu kepada orang-orang yang tak mengetahui engkau sebenarnya karena dirimu (aibmu) tak benar-benar terbuka kepadanya

Ketika mengadu kepadaNya jiwapun senantiasa jujur akan dirinya (aib) dan hati insyaAllah berniat akan memperbaiki diri

Namun ketika diri ini mengadu kepada yang tak mengetahui dirimu (aibmu), maka nasihat & dukunganpun hakikatnya tak mmbuat dirimu lebih baik

Maka banyak-banyak mengadulah kepada Allah agar mulia, jangan menjadi hina karena mengadu hanya kepada makhlukNya

kasihankah kita dengan mereka?

Monday, May 10, 2010
Sahabat, betapa sering kita menunda amal dan enggan menyeru kepada yang ma'ruf apalagi mencegah yang munkar hanya karena kita belum merasa cukup kaya, merasa jabatan belum tinggi, masih terlalu cape, masih merasa awam dalam urusan agama, dan seabreg alasan lainnya. Pernahkah kita berpikir bahwa kita akan diberikan kesempatan lagi?

Setelah sekian tahun memeluk Islam, sungguh aneh rasanya jika kita masih berlindung dari kewajiban amar ma'ruf nahyi munkar dengan alasan masih awam dalam urusan agama. Tidakkah kita kasihan dengan mereka yang lalai, tidakkah kita takut saudara kita tersesat, tidakkah kita sedih saudara kita memahami pikiran yang liberal karena mereka mengenal islam dari orang-orang Liberal itu...mana rasa marah kita, ketika agama ini dipermainkan. menangiskah kita ketika adzan dikumandangkan , ketika lafadz iqomah ...Hayya alla shollaaaaa"....hanya segelintir orang yang memenuhinya....Semoga kita diberikan kekuatan agar tidak lagi berlindung di balik kelelahan meraup rizki dunia.

kasihankah kita dengan mereka?

Sahabat, betapa sering kita menunda amal dan enggan menyeru kepada yang ma'ruf apalagi mencegah yang munkar hanya karena kita belum merasa cukup kaya, merasa jabatan belum tinggi, masih terlalu cape, masih merasa awam dalam urusan agama, dan seabreg alasan lainnya. Pernahkah kita berpikir bahwa kita akan diberikan kesempatan lagi?

Setelah sekian tahun memeluk Islam, sungguh aneh rasanya jika kita masih berlindung dari kewajiban amar ma'ruf nahyi munkar dengan alasan masih awam dalam urusan agama. Tidakkah kita kasihan dengan mereka yang lalai, tidakkah kita takut saudara kita tersesat, tidakkah kita sedih saudara kita memahami pikiran yang liberal karena mereka mengenal islam dari orang-orang Liberal itu...mana rasa marah kita, ketika agama ini dipermainkan. menangiskah kita ketika adzan dikumandangkan , ketika lafadz iqomah ...Hayya alla shollaaaaa"....hanya segelintir orang yang memenuhinya....Semoga kita diberikan kekuatan agar tidak lagi berlindung di balik kelelahan meraup rizki dunia.

Ingatlah batu-batu kecilmu !

Thursday, March 25, 2010
Ingatlah Allah SWT atas dirimu, mengingatlah karunia dan nikmatNya yang dilimpahkanNya. Nikmat yang jumlahnya tak terhitung sejak kita lahir tanpa sehelai benangpun di tubuh kita sampai sekarang kita telah menjadi kuat, diberikan kesehatan, diberikan harta, pekerjaan, keluarga dan banyak lagi.

Segala nikmat itu tak pernah lepas walau datang silih berganti tapi itu hanya sekedar cobaan untuk menguji dirimu. Kalaupun ada bencana yang menimpa kita, bukan karena Allah SWT dendam kepada manusia yang mendurhakaiNya, tetapi sebagai pelajaran apa yang mereka lakukan.

Bantulah dirimu untuk memunculkan penyesalan dengan mengingat-ingat semua kenikmatan yang telah didapatkan dengan mengingat-ingat kedurhakaan yang telah kita lakukan.
Ketika kita berjalan dalam perjalanan pendek..hmm mungkin 20 meter misalnya, dan selama perjalanan itu kita mengambil batu-batu yang ada di jalanan. Kadang kita mengambil batu-batu kecil kadang kita mengambil satu-dua-tiga batu yang besar. Setelah kita mencapai satu titik tertentu, lalu coba kita berjalan dengan arah sebaliknya. Apakah kita sanggup mengembalikan kembali batu-batu yang telah kita ambil ketempatnya semula? Paling tidak disekitar dimana batu itu diambil. Sulit rasanya bukan? Hanya batu-batu besar yang mungkin kita ingat dimana sebelumnya kita mengambilnya.

Begitulah kita selama perjalanan hidup kita, mungkin hanya dosa-dosa besar atau kedurhakaan besar yang kita ingat dalam kepala kita. Sedangkan dosa dosa kecil (batu batu kecil) sering kali kita lupakan. Maka sisihkanlah waktumu untuk merenung, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan kita. Mungkin adakalanya batu-batu kecil itu kembali terbersit di dalam ingatan kita dan membuat kita sadar.

Memang kita adalah lemah dalam mengingatnya, tetapi kita sangat yakin banyak sekali dosa-dosa yang telah kita lakukan. Maka bermohon ampunlah di setiap saat, semoga dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil itu terhapuskan.

" Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)" (An Nisa 4 : 31)

InsyaAllah kita menjadi orang-orang yang istiqomah di jalanNya, dan mengakui diri kita bukan apa-apa dihadapanNya

"maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun (QS 71 Nuh : 10)

Mereka yang sedikit tapi tersebar

Thursday, February 25, 2010
Beberapa minggu yang lalu, kami mengunjungi salah satu keluarga yang baru melahirkan di salah satu Rumah Sakit. Biasanya satu-dua kejadian atau suasana di Rumah Sakit membuat hati ini tersentuh. Namun saat itu tidak terlihat. Suasana bahagia dari saudaraku yang melahirkan dan beberapa pasien disekitarnya yang terlihat biasa-biasa saja membuat semakin tidak ada suasana yang menyentuh, ditambah rumah sakit yang kami datangi memang rumah sakit kecil.

Tibalah saat aku dan anakku duduk-duduk di ruang tunggu tidak jauh dari kamar rawat saudaraku. Terlihat seorang lelaki setengah baya yang terlihat sehat bugar, dengan semangat yang luar biasa mendatangi susunan kursi yang ada di ruang tunggu dan menaiki kursi dengan sedikit susah payah, karena memang kedua kakinya mengalami cacat fisik. Bapak itu bersama kami menyaksikan salah satu acara televisi, sesekali dia tertawa dan tersenyum melihat acara televisi yang sedang ditayangkan.

Berbisik anakku kepadaku, "pa, kenapa bapak itu? Kok kakinya begitu?", "dia mungkin terlahir cacat kak", "makanya kamu harus bersyukur mempunyai tubuh yang sempurna" jawabku singkat. Anakkupun sepertinya puas dengan jawabanku, walau terlihat mukanya masih penasaran dengan sekali-kali memperhatikan si bapak cacat itu.

Awalnya kejadian itu terlewatkan begitu saja, tidak ada hikmah atau pelajaran besar yang di ambil, hanya pernyataanku di dalam hati dan nasihatku kepada anakku "maka, bersyukurlah atas pemberianNya". Tetapi keinginanku mendorongku untuk mencari-cari informasi. Aku dapatkan informasi dari literatur di internet ternyata memang di dunia ini hanya terdapat sekitar 650 juta orang saja yang mengalami cacat fisik (Hal ini terungkap dalam seminar internasional bertajuk Globalization: Social Costs and Benefits for The Third World). Kita bandingkan dengan total jumlah penduduk dunia saat ini yang infromasinya lebih kurang sebanyak 6.8 Milyar orang (dimana China (1.3 Milyar), India (1.1 Milyar), USA (307 juta), Indonesia (240 juta) empat negara yang mempunyai jumlah penduduk terbesar.

Hanya 9.6% orang cacat di dunia, tidak banyak memang orang cacat yang hidup jika dibanding dengan orang dengan fisik normal. Banyak orang yang terlahir cacat namun mempunyai prestasi dan semangat yang lebih baik dibanding dengan kita yang terlahir normal. Iya, karena memang Allah memuliakan manusia, apapun bentuk yang telah Dia takdirkan, manusia tetap mulia.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (QS. Al Isra’ : 70)

Kembali kepada saudara kita yang mengalami cacat. walau jumlahnya sedikit, namun Allah swt telah menciptakannya tersebar di berbagai pelosok dunia. Disekitar kita mungkin hanya beberapa orang. Namun sekali-kali mereka muncul dihadapan kita, sekali-kali kita melihat mereka. Barulah setelah melihatnya, kita menyadari "betapa beruntungnya aku" , aku masih mempunyai mata yang masih bisa melihat, aku masih mempunyai tangan untuk memegang, aku masih mempunyai kaki yang bisa kulangkahkan untuk berdiri, berjalan dan berlari. Aku masih mempunyai mulut yang bisa mengungkapkan keinginan dan pendapatku..


Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak ; Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. (QS 108: Al Kautsar: 1-2)
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS 55: Ar Rahman : 13)


Tapi apa yang terjadi padaku, sakit sedikit sudah malas melangkahkan kaki ke mesjid untuk sholat berjamaah, hujan yang turun mengurungkan niat untuk berjamaah di mesjid. Berkilah itu merupakan udzur sehingga meminta toleransi untuk tidak melakukan perintahNya. Astaghfirullah, padahal dulu Abdullah bin Ummi-Maktum sahabat Nabi Muhammad yang tuna netra tetap berjalan ke mesjid dalam kegelapan dan kondisi yang mungkin lebih menyedihkan dari sekarang.

Kadang kehidupan kita berlalu begitu saja tanpa mengambil pelajaran dari apa yang telah kita alami, padahal banyak kejadian yang terkesan Allah memaksa kita, berbisik kepada kita untuk tetap bersyukur kepadaNya. Allah memahami, manusia itu makhluk dhoif makhluk lemah, maka dengan kebaikanNya, Allah memberikan peringatan dan petunjukNya kepada kita untuk tetep bersyukur.Semoga kita tidak lalai disetiap detik hidup kita.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS 14. Ibrahim : 7)

yakinlah Allah sedang berbisik kepada kita

Friday, February 12, 2010

Assalamualaykum ya akhi ya ukhti

La hawla wala quwata illa billah, alhamdulillah dengan kekuatan dariNya akhirnya aku diberikan kelapangan waktu dan kemauan kembali untuk menuliskan apa yang ada dikepalaku. Aku hampir mengabaikan bisikan hatiku yang selalu berbisik "berceritalah tentang hikmah atau apapun yang telah kau dapatkan dari masalah keseharian, hasil perenungan, juga pengalaman baik, supaya dapat diambil hikmahnya oleh orang lain, atau paling tidak sebagai pengingatmu"

Sejauh manakah kita bisa merasakan suara hati itu? Seburuk apapun akhlak seseorang aku yakin suara hati yang membisikkan kebaikan itu pasti ada. Namun kerapkali kita selalu mengabaikannya, akhirnya mata hati itu buta tertutup oleh hal-hal keduniawian. Pengalaman buruk yang pernah dialami, prinsip hidup, tidak merasa tanggungjawabnya dan sebagainya membelenggu hati kita.

Suatu ketika seseorang yang bertugas malam di kantor pergi ke kamar kecil, dengan niat ingin menyikat giginya. Namun apa yang terjadi, dia telah lupa menyisipkan pasta gigi ke dalam tas peralatan mandinya, hanya sikat gigi dan perlatan mandi lainnya yang dia bawa dari rumah. Namun di depan wastafel, didalam gelas beberapa sikat gigi dia melihat pasta gigi di dalamnya tidak diketahui milik siapa, akhirnya dia putuskan untuk mengambil sedikit pasta gigi tersebut untuk dioleskan ke sikat giginya. Selagi dia menyikat gigi, hatinya mulai mengingatkan dirinya "pasta gigi itu milik siapa? Kau belum mendapat ijin dari pemiliknya" gejolak muncul dari sisi buruknya "tidak mengapa, hanya sedikit kok mudah-mudahan yang punya ikhlas".

Namun apa yang akhirnya dia lakukan? Ternyata Dia mengingatNya, dia mengingat Malaikat yang mencatat perbuatannya, dia mengingat ampunan dari seorang manusia cukup sulit didapat. Bisa jadi orang yang mempunyai pasta gigi tersebut tidak terima jika odolnya berkurang. Mungkin tidak hanya dia yang mengambil odol tersebut, mungkin dia orang yang keberapa akhirnya pasta gigi tersebut berkurang banyak. Dia takut dia tidak bisa mendapatkan maaf dari orang tersebut, dia takut dia tidak bisa mengetahui siapa pemiliknya sampai nanti ajal menjemputnya. 

Sesampai di meja kerjanya, dia menuliskan reminder di handphonenya, " segera beli pengganti pasta gigi yang sama"", besoknya dia tempatkan pasta gigi yang baru dan sama ke dalam gelas dikamar mandi itu, dengan niat baik dan berharap kesalahannya diampuni..wallahu alam hanya Allah yang tahu.

Mungkin kita pernah mengalami hal ini entah itu di suatu kondisi yang sama atau yang berbeda. 

Bisikan hati..ya, berapa kali hati berbisik memberikan masukan, memberikan ajakan. Dalam keseharian, saat kita ada pikiran untuk melakukan hal-hal yang menyimpang dari kebaikan, kita akan merasakan satu sisi hati kita akan membisikkan larangan agar tidak melakukan niat pikiran buruk kita tadi, namun sekejap kemudian ada bisikan hati yang lain untuk membujuk agar kita tetap melakukan niat hati yang semula. Seolah-olah ada perseteruan dalam hati, antara yang membujuk agar terlaksana dan yang melarang agar tujuan tidak terlaksana, atau paling tidak hatinya mengatakan "sudahlah tak perlu dilakukan kebaikan itu, tidak terlalu penting"

Sekarang, coba kita perlahan menerima dan mengikuti anjuran hati nurani kita, yakinlah akan kebaikanNya yang akan kita dapatkan dan takutlah hati itu akan buta ketika kita selalu mengabaikannya. Saat diri kita sudah tidak mau mendengarkan hati nuraninya, mungkin kita akan selalu melakukan hal yang tidak benar. Dan Bersyukurlah kita karena hati nurani kita tidak bosan-bosannya menyertai dan membimbing kita sepanjang hidup kita.

Ketika keinginan baik itu muncul (bisikan hati nurani), yakinlah Allah sedang berbisik kepada kita

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram (QS 13. Ar Ra'd 28)


janganlah engkau katakan ‘Seandainya...

Monday, November 30, 2009
Pagi ini aku membuka lembaran-lembaran halam salah satu bukuku, mataku tertuju ke salah satu halaman yang menuliskan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Abu Huraira ra. Meriwayatkan “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata “ ….Teruslah memohon pertolongan Allah dan jangan berhenti ,Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian, tentu hasilnya akan begini dan begitu, sebaliknya katakanlah “demikianlah Allah menetapkan dan Dia berbuat menurut kehendakNya, kata seandainya itu membuka gerbang menuju (pikiran-pikiran) setan (HR Muslim)

Subhanallah !!, betapa banyak ucapan-ucapan yang di awali dengan “seandainya…” yang telah aku lontarkan selama ini, dan hamper semuanya membawa hatiku menuju ke gerbang (pikiran-pikiran setan). Iya semua itu tanpa sengaja maupun dengan sadar aku ucapkan, khilafku dan ketidaktahuankulah yang membuatku hanyut dalam kebodohan.

Aku jadi ingat, ketika aku gagal melakukan sesuatu atau mendapatkan sesuatu waktu itu, ungkapan “seandainya” kerap terucapkan…

“Seandainya aku tidak ketiduran, tentu saya tidak akan ketinggalan pesawat tersebut”
“Seandainya aku tidak sakit waktu itu, tentu saya mempunyai kesempatan ikut test itu”

“Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (QS. Yusuf: 21)

Subhanallah !!, lagi-lagi di buku tersebut dituliskan firman Allah yang membuatku semakin sadar. Ketika aku gagal atau tidak tercapai keinginanku, sebaiknya hendaklah aku menyandarkan segala urusannya pada Allah karena hanya Dia-lah yang men-takdirkan segalanya. Dan aku harus melatih hatiku untuk tetap selalu menanamkan bahwa Allah mempunyai sifat Iradat (berkehendak) dan Allah itu Muridan yaitu Zat yang Maha Berkehendak.

Mengapa bisa membawa ke gerbang (pikiran-pikiran) setan?
Coba bayangkan lagi!, ketika kita ucapkan “seandainya…” ketika kita gagal mencapai sesuatu yang tidak kita inginkan. Muncul rasa was-was, sedih, timbul penyesalan, dan kegelisahan.Dan tidak menutup kemungkinan lupa akan Allah yang maha mengatur dan menetapkan

Tetapi ada juga kata-kata “seandainya” diperbolehkan, insyaAllah dengan matahati kita bisa melihat dan merasakan mana yang bisa kita ucapkan mana yang tidak perlu kita lakukan,

ucapan ‘seandainya’ digunakan hanya sekedar pemberitaan, memungkinkan untuk kita ucapkan
“Seandainya engkau kemarin menghadiri pengajian, tentu engkau akan banyak paham mengenai jual beli yang terlarang.” karena yang dianggan-angankan adalah hal yang baik-baik atau dalam hal mendapatkan ilmu nafi’ (yang bermanfaat)
“Seandainya aku punya banyak buku, tentu saya akan lebih paham masalah agama”
“Seandainya saya punya banyak harta seperti si fulan, tentu saya akan memanfaatkan harta tersebut untuk banyak berderma.”

Jadi mulai sekarang tidak perlu bersedih, dan tetaplah berdoa kepada Allah dikala kegagalan, keinginan atau ketidakenakan hati itu tidak menghampiri.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS. Al Baqarah: 216)
Seandainya kita memegang sekuntum bunga berduri, dikala itu juga tangan kita terluka kena duri yang tajam dari bunga yang kita pegang. ada dua pilihan yang bisa kita ucapkan
"seandainya saja aku tidak memegang bunga itu, mungkin...." atau
aku cepat bersyukur, lukaku tidak seberapa, dan berharap dibalik semua itu akan menghapus dosa-dosaku

Abu Huraira ra. Meriwayatkan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam "Tidak ada rasa lelah, rasa sakit, stress, cemas, sedih atau cedera yang dialami seorang muslim, bahkan tusukan duri sekalipun, melainkan allah akan menjadikannya sebagai penebus dosa-dosanya" (HR.Muslim).


wallahualam...

Dengarkanlah suara hatimu

Saturday, November 28, 2009
Karena ada kebutuhan untuk pembayaran di suatu bengkel, seorang pria itupun mulai bertanya-tanya “dimana ya ATM terdekat?” ; ada pak di dekat situ kata seorang teknisi bengkel itu dengan ramah. Pria itupun mengucapkan terima kasih kepadanya. Ternyata seorang kasir bengkel itu mendengar percakapan mereka, dan diapun menawarkan kepada pria tersebut, “pak, biar nanti teknisi kami yang antar bapak ke ATM”; "terima kasih bu" ucap pria itu dengan senyum bahagia. Namun dikala menunggu teknisi mengerjakan service mobilnya, suara hati pria mengatakan kepadanya ”kalau engkau diantar oleh teknisi bengkel ini, mungkin akan mengganggu kerjanya, bukankah akan merepotkan mereka dan bisa jadi itu tanpa sepengatahuan pemilik bengkel

Setelah berpikir panjang, akhirnya pria itu beranjak dari duduknya kemudian keluar dari bengkel dan berjalan menghampiri tukang ojeg yang ada didekat situ. Tanpa tawar menawar lagi, pria itu pun minta diantar ke ATM terdekat. Setelah keluar dari ATM pecahan Rp. 50.000, Estimasi pria itu, ongkos ojeg itu Rp 5.000 karena memang jaraknya hanya 200 meter, pria itu berpikir “Hmm apakah tukang ojeg itu mempunya kembalian ya?”, mengingat uang terkecil yang dimilikinya adalah pecahan Rp.50.000.
Sepertinya pria itu berpikir untuk membelanjakan uangnya dengan membeli makanan kecil di warung. Namun apa yang di rasakan, hati nuraninya memanggil “kenapa kau tak berikan saja ongkosnya Rp. 10.000, hitung-hitung memberikan sedekah kepadanya”. Tanpa berpikir panjang pria itu mengikuti hatinya, dia takut panggilan hati itu akan sirna segera. Pria itupun akhirnya menghampiri tukang ojeg itu, “pak, uang saya Rp 50.000, apakah bapak ada kembalian Rp 40.000” ; tidak ada pak jawabnya, hmm pikir pria itu, akhirnya dia putuskan untuk memecah uangnya untuk membeli sesuatu, dan kembali dia hampiri tukang ojeg dan memberikan Rp 10.000 kepadanya. Ucapan terima kasih terdengar dari tukang ojeg tersebut.
Kadang hati nurani memanggil jiwa untuk berbuat baik, namun kadangkala kita sering menggubrisnya, sehingga hati nurani itu sirna seketika. Lain waktu dia kembali datang, lagi-lagi dia dihiraukan. Begitulah kita memberlakukan hati kita. Semua orang mempunyai hati, namun tidak banyak yang bisa mendengarkan suara hatinya. Semua orang punya hati, tidak banyak yang bisa membersihkannya. Semoga kita menjadi manusia yang bersih hatinya ..amien

i am on my way home..

Thursday, November 12, 2009
Assalamualaykum ya akhi ya ukhti
Pagi yang cerah di hari mulia ini tidak salahnya kita kembali mengingat kematian. Terlihat seramkah?, tapi begitulah kenyataannya, kita semua pasti akan menghadapinya.
Kematian datang berulang-ulang, menjemput setiap orang, orang tua maupun anak-anak, orang kaya maupun orang miskin, orang kuat maupun orang lemah. Semuanya menghadapi kematian dengan sikap yang sama, tidak ada kemampuan menghindarinya, tidak ada kekuatan, tidak ada pertolongan dari orang lain, tidak ada penolakan, dan tidak ada penundaan. Semua itu mengisyaratkan, bahwa kematian datang dari Pemilik kekuatan yang paling tinggi. Meski sedikit, tak seorang pun manusia memiliki wewenang atas kematian.
“Kita semua telah meyakini kematian, tetapi kita tidak melihat orang yang bersiap-siap menghadapinya! Kita semua telah meyakini adanya surga, tetapi kita tidak melihat orang yang beramal untuknya! Kita semua telah meyakini adanya neraka, tetapi kita tidak melihat orang yang takut terhadapnya! Maka terhadap apa kamu bergembira? Kemungkinan apakah yang kamu nantikan? Kematian! Itulah perkara pertama kali yang akan datang kepadamu dengan membawa kebaikan atau keburukan. Wahai, saudara-saudaraku! Berjalanlah menghadap Penguasamu (Allah) dengan perjalanan yang bagus”. (Hamid Al Qaishari)
Imam Ibnu Majah meriwayatkan : Dari Al Bara’, dia berkata: Kami bersama Rasulullah saw pada suatu jenazah, lalu Beliau duduk di tepi kubur, kemudian Beliau menangis sehingga tanah menjadi basah, lalu Beliau bersabda: “Wahai, saudara-saudaraku! Maka persiapkanlah untuk yang seperti ini,!” (HR Ibnu Majah, no. 4.190, dihasankan oleh Syaikh Al Albani).
(al manhaj.or.id)
Demikian sedikit tentang dzikrul maut, semoga bermanfaat. Persiapkanlah diri kita menghadapi kematian begitu juga aku masih perlu membenah diri untuk menyiapkan segala perbekalannya. Semoga kita semua bisa belajar dari sekitar, mengambil hikmah dari kejadian-kejadian yang kita dengar yang kita lihat.
I hear the wind , called my name ..the sound that leads me home again
i will always return...I know the road is long ..i'll find the way..Yes i am on my way home....